
Gunung berapi merupakan kekuatan alam yang dapat menyebabkan kerusakan besar, dan meskipun gunung berapi yang aktif dipantau secara ketat, gunung berapi yang tidak aktif juga dapat menimbulkan ancaman yang signifikan. Gunung berapi yang tidak aktif adalah gunung berapi yang sudah lama tidak meletus, tetapi masih berpotensi meletus di masa mendatang. Gunung berapi ini mungkin tidak aktif selama berabad-abad, tetapi masih jauh dari aman untuk tidak aktif. Berikut adalah daftar 9 gunung berapi tidak aktif teratas yang dapat meletus, diurutkan berdasarkan ukuran.
1. Mauna Loa (13.681 Kaki)
Mauna Loa, yang terletak di Pulau Besar Hawaii, adalah gunung berapi terbesar di Bumi berdasarkan volume dan luasnya. Dengan ketinggian 13.681 kaki di atas permukaan laut, dasarnya memanjang sampai ke dasar laut, membuatnya lebih tinggi dari Gunung Everest jika diukur dari dasar ke puncak. Mauna Loa telah meletus 33 kali sejak letusan pertamanya yang tercatat pada tahun 1843, dengan letusan terakhir terjadi pada tahun 1984. Letusannya biasanya efusif, yang berarti aliran lava terus-menerus daripada meledak dengan hebat. Namun, ukuran dan kedekatan Mauna Loa dengan daerah berpenduduk membuatnya menjadi perhatian utama. Diyakini bahwa gunung berapi ini merupakan salah satu gunung berapi yang paling diawasi dengan ketat, dengan para ilmuwan terus-menerus mencari tanda-tanda aktivitas baru. Mauna Loa dianggap sakral dalam budaya Hawaii, dan legenda setempat berbicara tentang Pele, dewi gunung berapi, yang tinggal di dalam gunung berapi tersebut. Kemungkinan letusan lain selalu ada, menjadikan Mauna Loa sebagai gunung berapi yang harus diawasi dengan ketat.
2. Gunung Kilimanjaro (19.341 Kaki)
Gunung Kilimanjaro, yang terletak di Tanzania, adalah puncak tertinggi di Afrika, dengan ketinggian 19.341 kaki. Stratovolcano yang tidak aktif ini terdiri dari tiga kerucut: Kibo, Mawenzi, dan Shira, dengan Kibo sebagai yang tertinggi. Kilimanjaro adalah gunung berapi yang tidak aktif, dengan letusan terakhir terjadi sekitar 360.000 tahun yang lalu. Namun, aktivitas seismik telah tercatat di wilayah tersebut, dan beberapa ilmuwan percaya bahwa masih ada kemungkinan letusan di masa mendatang. Kombinasi unik dari gletser, puncak yang tertutup salju, dan hutan tropis menjadikannya keajaiban alam. Kilimanjaro terkenal tidak hanya karena ketinggiannya tetapi juga karena signifikansi lingkungannya, karena gletsernya telah menyusut dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir karena perubahan iklim. Mendaki Kilimanjaro adalah kegiatan yang populer, dengan ribuan petualang berusaha mencapai puncaknya setiap tahun. Cerita dari masyarakat adat Chaga berbicara tentang gunung tersebut sebagai tempat spiritual, di mana gunung berapi tersebut diyakini menyimpan kekuatan yang kuat.
3. Gunung Fuji (12.388 Kaki)
Gunung Fuji, yang terletak di Pulau Honshu di Jepang, merupakan salah satu gunung berapi yang paling dikenal di dunia. Dengan ketinggian 12.388 kaki, Gunung Fuji merupakan simbol Jepang, yang dikenal dengan bentuk kerucutnya yang simetris sempurna. Gunung berapi ini merupakan tujuan wisata yang populer bagi wisatawan, pendaki, dan seniman, dengan banyak sekali karya seni yang menggambarkan keindahannya. Letusan Gunung Fuji terakhir terjadi pada tahun 1707, selama periode Edo, dan saat ini dianggap tidak aktif, meskipun tetap berpotensi menjadi ancaman. Letusannya sering kali bersifat eksplosif, dan setiap letusan di masa mendatang dapat menimbulkan bahaya yang signifikan bagi wilayah metropolitan Tokyo yang padat penduduk. Meskipun tidak aktif, Gunung Fuji dipantau dengan cermat, dan para ilmuwan waspada terhadap tanda-tanda aktivitas vulkanik. Dalam budaya Jepang, Gunung Fuji dihormati sebagai situs suci, dengan banyak orang melihatnya sebagai representasi pencerahan spiritual. Gunung berapi ini menjadi subjek dari banyak legenda dan cerita, yang sering dikaitkan dengan dewi api, Pele, yang diyakini tinggal di dalam gunung tersebut.
4. Gunung St. Helens (8.363 Kaki)
Gunung St. Helens, yang terletak di negara bagian Washington, AS, terkenal karena letusan dahsyatnya pada tahun 1980, yang merupakan salah satu peristiwa vulkanik paling signifikan dalam sejarah AS. Berdiri setinggi 8.363 kaki, Gunung St. Helens meletus dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga meninggalkan kawah besar dan secara signifikan mengubah lanskap di sekitarnya. Letusan tersebut menyebabkan kerusakan besar, termasuk hilangnya nyawa dan penghancuran ribuan hektar hutan. Meskipun Gunung St. Helens telah tidak aktif sejak 2008, gunung ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif, dan letusan di masa mendatang mungkin terjadi. Gunung St. Helens telah menjadi situs utama untuk studi ilmiah, karena para peneliti terus memantau perilakunya dan dampak letusannya terhadap ekosistem di sekitarnya. Akibat letusan tersebut telah menyebabkan didirikannya Monumen Vulkanik Nasional Gunung St. Helens, tempat pengunjung dapat mengamati perubahan geologis yang telah terjadi sejak letusan tersebut.
5. Gunung Vesuvius (4.203 Kaki)
Gunung Vesuvius, yang terletak di Italia dekat kota Naples, adalah salah satu gunung berapi paling terkenal dalam sejarah. Berdiri setinggi 4.203 kaki, Vesuvius meletus pada tahun 79 M, menghancurkan kota-kota Romawi Pompeii dan Herculaneum, dan menguburnya di bawah lapisan abu vulkanik yang tebal. Letusan tersebut merupakan salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Eropa dan tetap menjadi titik studi utama bagi para arkeolog dan vulkanolog. Meskipun gunung berapi tersebut tidak meletus sejak tahun 1944, gunung tersebut tetap merupakan gunung berapi yang aktif dan berpotensi berbahaya, dengan jutaan orang tinggal di bawah bayangannya. Karena kedekatannya dengan Naples, para ilmuwan memantau Vesuvius dengan saksama untuk mengetahui tanda-tanda letusan di masa mendatang. Selain signifikansi geologisnya, Gunung Vesuvius telah membentuk budaya lokal, dengan banyak mitos dan cerita seputar kekuatan gunung berapi tersebut. Pelestarian Pompeii dan Herculaneum di bawah abu vulkanik memberikan gambaran unik tentang kehidupan Romawi kuno dan terus memikat para sejarawan dan pengunjung dari seluruh dunia.
6. Gunung Etna (10.922 Kaki)
Gunung Etna, yang terletak di pulau Sisilia, adalah gunung berapi tertinggi dan paling aktif di Eropa. Dengan ketinggian 10.922 kaki, Etna dikenal karena seringnya meletus, meskipun ada periode dormansi. Gunung ini telah meletus terus menerus selama ribuan tahun, dengan letusan terakhir terjadi pada tahun 2021. Letusan Etna sering kali bersifat eksplosif dan menghasilkan awan abu besar, dan aliran lava dari gunung berapi tersebut dapat memengaruhi kota-kota di sekitarnya. Gunung berapi ini telah menjadi situs penting untuk penelitian ilmiah, karena letusannya yang sering memberikan wawasan tentang aktivitas gunung berapi dan proses yang membentuk permukaan bumi. Gunung Etna juga penting secara budaya, dengan legenda lokal yang mengaitkan gunung berapi tersebut dengan dewa Yunani Hephaestus, dewa api. Wilayah sekitarnya adalah rumah bagi beberapa reruntuhan kuno, yang dibangun di bawah bayang-bayang letusan Etna. Saat ini, Gunung Etna adalah tujuan wisata populer, yang menarik para pendaki dan pencari petualangan.
7. Gunung Rainier (14.410 Kaki)
Gunung Rainier, yang terletak di negara bagian Washington, adalah stratovolcano megah yang menjulang 14.410 kaki di atas permukaan laut. Meskipun tidak meletus selama lebih dari satu abad, Gunung Rainier dianggap sebagai salah satu gunung berapi paling berbahaya di Amerika Serikat. Gletser dan hamparan saljunya dapat memicu lahar (aliran lumpur) yang mematikan jika terjadi letusan, sehingga membahayakan kota-kota di sekitarnya. Gunung ini merupakan tokoh sentral di Pacific Northwest, dan keberadaannya yang menjulang tinggi merupakan simbol keindahan alam wilayah tersebut. Gunung Rainier merupakan tujuan pendakian dan pendakian yang populer, yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Para ilmuwan memantau gunung berapi tersebut dengan saksama untuk mengetahui tanda-tanda peningkatan aktivitas, dan potensinya untuk meletus menjadikannya area yang perlu diperhatikan oleh otoritas setempat. Suku-suku asli Amerika telah lama menghormati gunung tersebut, dan gunung tersebut terus menjadi simbol budaya dan spiritual yang kuat.
8. Gunung Taranaki (8.263 Kaki)
Gunung Taranaki, yang terletak di pantai barat Pulau Utara Selandia Baru, adalah stratovolcano yang tidak aktif dengan ketinggian 8.263 kaki. Bentuknya yang simetris dan puncaknya yang tertutup salju menjadikannya salah satu gunung berapi paling indah di dunia. Letusan terakhir Gunung Taranaki terjadi sekitar tahun 1850, dan meskipun gunung berapi tersebut dianggap tidak aktif, gunung tersebut masih merupakan fitur geologis aktif yang berpotensi meletus lagi. Wilayah di sekitar gunung berapi tersebut merupakan rumah bagi hutan hujan yang rimbun, dan Gunung Taranaki merupakan tujuan populer bagi para pendaki gunung. Gunung tersebut secara budaya penting bagi masyarakat Māori, yang menganggapnya sebagai situs suci. Legenda setempat menceritakan bahwa gunung berapi tersebut adalah seorang pejuang yang bertempur dengan gunung-gunung lain, dan kisah-kisah ini telah diwariskan dari generasi ke generasi.
9. Gunung Tambora (9.350 Kaki)
Gunung Tambora, yang terletak di Pulau Sumbawa di Indonesia, terkenal dengan letusan dahsyatnya pada tahun 1815, salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan tersebut menyebabkan penurunan suhu global, yang menyebabkan apa yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816, yang menyebabkan gagal panen dan kekurangan pangan yang meluas. Saat ini, Gunung Tambora masih tidak aktif, tetapi potensinya untuk letusan di masa mendatang masih dianggap signifikan. Berdiri setinggi 9.350 kaki, gunung ini merupakan kehadiran yang mengesankan dan menjulang tinggi di lanskap tersebut. Para ilmuwan memantau wilayah tersebut dengan saksama untuk mencari tanda-tanda aktivitas, karena letusan Gunung Tambora dapat menimbulkan konsekuensi yang luas. Dampak letusannya pada tahun 1815 terus dipelajari oleh para ilmuwan dan sejarawan, karena hal itu menjadi pengingat akan kekuatan gunung berapi.